Pembahasan Artikel
ToggleGIANYAR – Kawasan wisata Ubud, Bali, kembali dikejutkan oleh insiden tumbangnya sebuah pohon beringin (Ficus benjamina) berukuran raksasa. Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil dan gangguan lalu lintas, tetapi juga menyentuh aspek spiritual mengingat posisi pohon beringin yang seringkali dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Insiden yang terjadi di tengah cuaca ekstrem ini menjadi pengingat keras bahwa pohon-pohon tua di area publik menyimpan potensi bahaya yang seringkali tidak terdeteksi oleh mata.
Beringin, dengan tajuknya yang masif dan akar gantung yang ikonik, memang menjadi ciri khas lanskap Bali. Namun, insiden di Ubud ini menyingkap fakta bahwa usia tua pohon berbanding lurus dengan penurunan vitalitas struktur kayunya. Tanpa adanya sistem pemantauan yang tepat, pohon yang tampak gagah berdiri bisa saja mengalami kegagalan struktur (structural failure) dalam hitungan detik, mengancam keselamatan wisatawan dan warga lokal.
Mengapa Pohon Raksasa Ini Bisa Runtuh?

Secara visual, pohon beringin di Ubud mungkin terlihat subur dengan daun yang lebat. Namun, “kesehatan biologis” (daun hijau) seringkali menutupi buruknya “kesehatan biomekanis” (kekuatan kayu).
Penyebab utama tumbangnya pohon besar seringkali berpusat pada dua faktor internal: Busuk Hati (Heart Rot) dan Kegagalan Akar (Root Plate Failure).
-
Pelapukan Internal yang Tak Terlihat: Jamur patogen seperti Ganoderma seringkali menginfeksi bagian pangkal batang dan akar. Jamur ini memakan selulosa kayu dari dalam, menciptakan rongga besar (hollow) tanpa merusak kulit luar pohon. Akibatnya, batang pohon kehilangan kepadatan dan kemampuannya menopang beban tajuk yang berat.
-
Sistem Perakaran yang Terganggu: Di kawasan padat seperti Ubud, ruang tumbuh akar seringkali terbatas oleh aspal jalan, bangunan, atau drainase beton. Kondisi ini memicu kematian akar penyangga utama. Ketika angin kencang menerpa, pohon tidak lagi memiliki “jangkar” yang kuat ke tanah.
Untuk mencegah kejadian serupa, pengelola kawasan memerlukan strategi mitigasi proaktif. Langkah pertama adalah menerapkan teknologi tree monitor alat pemantau kesehatan pohon dan akar yang mampu melihat kondisi di bawah tanah dan di balik kulit kayu. Mengandalkan inspeksi visual saja sudah tidak lagi memadai untuk pohon-pohon warisan (heritage trees) yang memiliki risiko tinggi.
Solusi Deteksi Dini: Teknologi Sonic Tomograph
Menjawab tantangan deteksi penyakit dalam tersebut, para ahli arborikultur merekomendasikan penggunaan teknologi Sonic Tomograph. Metode ini bekerja dengan prinsip gelombang suara (akustik) untuk memetakan kepadatan kayu secara non-destruktif.
Alih-alih melukai pohon dengan bor atau menebangnya untuk diperiksa, petugas dapat melakukan kesehatan pohon ukur kondisi kerusakan pohon dengan akurat menggunakan sensor yang dipasang melingkari batang. Sensor ini mengirimkan gelombang suara menembus kayu.
Prinsip kerjanya sederhana namun presisi: suara merambat cepat melalui kayu yang sehat dan padat, namun merambat lambat saat melewati kayu yang lapuk atau berongga. Data waktu tempuh ini kemudian diolah oleh komputer menjadi citra penampang melintang berwarna (Tomogram). Dengan demikian, pengelola dapat “melihat” seberapa besar lubang di dalam pohon beringin tersebut sebelum bencana terjadi.
Adopsi teknologi ini sangat krusial bagi kota-kota wisata. Memahami peran sonic tomograph revolusi pemantauan kesehatan pohon berarti kita beralih dari manajemen krisis (menangani pohon setelah tumbang) menuju manajemen risiko preventif (mendeteksi dan merawat sebelum tumbang).
Mengapa Memilih Fakopp ArborSonic 3D?
Di antara berbagai instrumen tomografi yang tersedia di pasar, Fakopp ArborSonic 3D menjadi rekomendasi utama untuk audit pohon-pohon besar dan bernilai tinggi seperti beringin di Ubud. Alat ini menawarkan keunggulan teknologi yang tidak dimiliki oleh alat uji 2D konvensional.
Keunggulan spesifik Fakopp ArborSonic 3D meliputi:
1. Visualisasi 3D Volume Kerusakan
Pohon beringin memiliki struktur batang yang kompleks dan tidak beraturan. Alat 2D hanya memberikan satu irisan gambar. Fakopp ArborSonic 3D memungkinkan pemasangan sensor pada beberapa ketinggian (multi-layer). Perangkat lunak akan menggabungkan data ini untuk memvisualisasikan penyebaran pembusukan secara vertikal dan horizontal. Hal ini memberikan gambaran utuh mengenai seberapa parah kerusakan yang terjadi.
2. Analisis Beban Angin (Wind Load Analysis)
Fakopp tidak hanya memberitahu “ada lubang”, tetapi juga menjawab “apakah pohon ini aman?”. Perangkat lunaknya menghitung beban angin maksimal yang mungkin terjadi di lokasi tersebut dan membandingkannya dengan sisa kekuatan kayu yang sehat. Fitur ini menjadikan Fakopp Arborsonic 3D adalah solusi kesehatan pohon yang paling komprehensif karena memberikan Safety Factor (Angka Keamanan) yang jelas sebagai dasar pengambilan keputusan.
3. Metode Non-Destruktif
Pohon keramat di Bali harus diperlakukan dengan hormat. Fakopp menggunakan sensor yang hanya membutuhkan penetrasi minimal pada kulit pohon, tanpa merusak jaringan vital. Ini memastikan proses pemeriksaan tidak menyakiti atau mematikan pohon yang sedang kita coba selamatkan.

Dapatkan Fakopp Arborsonic 3D Sekarang, Klik Disini
Jangan tunggu hingga pohon tumbang! Segera lakukan deteksi dini pada struktur pohon. Hubungi tim kami untuk informasi dan penawaran lebih lanjut!
Sumber: https://www.asatunews.co.id/pohon-beringin-tumbang-ubud



