ESTABLISHING CONNECTION...

Pohon Tumbang Kembali Terjadi di UNP Padang: Alarm Bahaya!

PADANG – Cuaca ekstrem yang melanda Kota Padang pada Rabu malam (11/3) kembali memakan korban aset dan mengancam keselamatan publik. Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang menyebabkan sebuah pohon pelindung berukuran besar tumbang di jalan protokol Dr. Hamka, tepatnya di depan area kampus Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar.

Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, batang pohon yang roboh tersebut menimpa satu unit mobil minibus yang sedang melintas atau terparkir di area bahu jalan. Kondisi kendaraan mengalami kerusakan parah pada bagian atap akibat hantaman material kayu yang berat. Proses evakuasi kendaraan dan pembersihan batang pohon yang melintang di jalan raya langsung dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD dan Dinas Pertamanan setempat guna memulihkan arus lalu lintas yang sempat lumpuh total.

Insiden ini menambah daftar panjang kasus kegagalan struktur pohon (tree failure) di kawasan pendidikan dan jalan utama tersebut. Warga sekitar mencatat bahwa kejadian serupa bukanlah hal baru; tercatat insiden pohon tumbang pernah terjadi pada tahun 2022, dan kini pola yang sama terulang kembali di tahun 2026. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa ada masalah sistemik pada kesehatan pohon-pohon tua di sepanjang jalur hijau kota yang selama ini luput dari perhatian serius hingga bencana terjadi.

Kejadian berulang di lokasi yang sama menuntut evaluasi menyeluruh. Apakah pohon-pohon ini tumbang semata-mata karena “takdir” cuaca, atau ada faktor kelalaian dalam pemantauan kesehatan akarnya?

Mengapa Pohon Besar di Perkotaan Rawan Tumbang?

Pohon tumbang di perkotaan indonesia - taharica

Secara visual, pohon di depan UNP mungkin terlihat hijau dan rimbun. Namun, kehijauan daun seringkali menipu. Banyak pohon di lingkungan perkotaan mengalami stres berat pada bagian yang tidak terlihat: Sistem Perakaran.

Pohon kota hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan habitat aslinya di hutan. Di sepanjang Jalan Dr. Hamka, ruang tumbuh akar sangat terbatas karena terhimpit oleh aspal jalan raya di satu sisi dan beton trotoar atau pagar kampus di sisi lainnya. Kondisi ini memicu beberapa masalah fatal:

  1. Pemotongan Akar (Root Severing): Proyek pelebaran jalan atau perbaikan drainase seringkali memotong akar-akar penopang utama (structural roots) tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap stabilitas pohon.

  2. Pemadatan Tanah (Soil Compaction): Tanah di bawah trotoar yang sering dilalui kendaraan atau pejalan kaki menjadi sangat padat. Akibatnya, air dan oksigen sulit menembus tanah, menyebabkan akar mati lemas atau membusuk.

  3. Serangan Jamur Akar: Kelembapan tinggi akibat drainase yang buruk menjadi sarang bagi jamur pelapuk akar. Penyakit ini memakan kayu dari dalam, membuat akar keropos seperti spons meskipun kulit luarnya tampak utuh.

Kita harus memahami filosofi dasar bahwa kesehatan pohon adalah pondasi ekosistem perkotaan. Pohon bukan sekadar tiang listrik yang bisa berdiri tegak selamanya tanpa perawatan. Mereka adalah makhluk hidup yang, jika sakit, bisa berubah menjadi ancaman mematikan bagi manusia di sekitarnya. Kegagalan memahami biologi pohon inilah yang menyebabkan “bencana” pohon tumbang terus berulang.


Mitigasi Risiko: Pentingnya Inspeksi di Luar Pengamatan Visual

Paradigma lama dalam manajemen pohon kota biasanya bersifat reaktif: “Tunggu ada laporan miring, baru ditebang,” atau “Tunggu tumbang, baru dievakuasi.” Paradigma ini harus diubah menjadi proaktif dan berbasis data sains.

Pemerintah kota maupun pengelola kawasan tidak bisa lagi hanya mengandalkan inspeksi visual (visual assessment). Penyakit busuk akar dan rongga pada pangkal batang seringkali tidak menunjukkan gejala pada daun. Daun bisa tetap hijau karena jaringan pengangkut air (xylem) masih berfungsi, padahal kayu penopang (heartwood) sudah lapuk total.

Langkah mitigasi yang efektif harus melibatkan teknologi instrumentasi. Proses ini disebut sebagai Tree Monitoring. sebagai sebuah prosedur standar audit keselamatan publik. Ini meliputi pengukuran kemiringan, kepadatan kayu batang, dan yang paling krusial namun sering diabaikan: Pemetaan Kondisi Akar.

Tanpa data kondisi akar yang valid, keputusan pemangkasan (pruning) atau penebangan menjadi spekulatif. Memotong tajuk pohon yang akarnya sudah busuk mungkin mengurangi beban angin, tapi tidak menghilangkan risiko tumbang karena fondasinya sudah hilang.


Solusi Deteksi Dini: Fakopp Root Detector

Bagaimana cara kita mengetahui kondisi akar di bawah aspal atau tanah keras tanpa harus menggali dan merusak jalan? Jawabannya terletak pada teknologi gelombang suara.

Para arborist (ahli pohon) dan peneliti kehutanan global kini merekomendasikan penggunaan alat Fakopp Root Detector untuk audit stabilitas pohon. Alat ini dirancang khusus untuk “melihat” ke bawah tanah menggunakan prinsip rambatan gelombang tegangan (stress wave propagation).

Cara Kerja Teknologi Fakopp

Fakopp Root Detector bekerja berdasarkan prinsip fisika sederhana namun presisi: suara merambat lebih cepat melalui kayu yang padat dan sehat, dan merambat lebih lambat (atau tidak sama sekali) melalui kayu yang busuk atau tanah.

  1. Pemasangan Sensor: Petugas memasang beberapa sensor di pangkal batang pohon dan beberapa sensor pasak di tanah sekeliling pohon pada jarak tertentu.

  2. Induksi Gelombang: Petugas mengetuk sensor pada pohon menggunakan palu khusus untuk menciptakan gelombang suara.

  3. Pengukuran Waktu Tempuh: Alat mencatat waktu yang dibutuhkan gelombang suara untuk merambat dari batang, melalui akar, menuju sensor di tanah.

  4. Analisis Data: Perangkat lunak akan menghitung kecepatan rambat tersebut. Jika ada akar besar yang sehat menghubungkan batang dan sensor tanah, gelombang akan sampai dengan cepat. Jika akarnya busuk atau putus, gelombang harus merambat memutar melalui tanah, sehingga waktu tempuhnya jauh lebih lama.

Dengan metode ini, kesehatan pohon dapat dilakukan tanpa melukai pohon sedikitpun (non-destructive testing)


Keunggulan Fakopp Root Detector untuk Mitigasi Bencana Kota

1. Pemetaan Distribusi Akar yang Komprehensif

Seringkali pohon tumbang ke arah tertentu bukan karena angin, tapi karena akar pada sisi berlawanan sudah mati. Fakopp mampu memetakan distribusi akar secara radial. Kita bisa mengetahui: “Oh, sisi utara akarnya kuat, tapi sisi selatan akarnya kosong/busuk.” Informasi ini vital untuk memprediksi ke arah mana pohon akan jatuh jika ada badai.

2. Objektivitas Data untuk Pengambilan Keputusan

Seringkali penebangan pohon diprotes oleh aktivis lingkungan karena dianggap “pohon masih sehat kok ditebang”. Dengan tree monitor alat teknologi pengukur kesehatan pohon, dinas terkait memiliki bukti data kuantitatif. Grafik yang menunjukkan kerusakan akar 70% adalah argumen yang tak terbantahkan untuk melakukan penebangan demi keselamatan, meredam konflik sosial.

3. Efisiensi Biaya Jangka Panjang

Pengukuran dengan root detector mampu meminimalisir resiko adanya korban akibat pohon tumbang, dengan menganalisis arah sebaran akar pohon

4. Metode Non-Destruktif yang Ramah Lingkungan

Pemeriksaan akar cara lama (penggalian) justru merusak akar itu sendiri dan merusak trotoar. Fakopp Root Detector memungkinkan pemeriksaan dilakukan di area pedestrian yang sibuk seperti di depan UNP tanpa perlu membongkar keramik trotoar atau mengganggu kenyamanan pejalan kaki.

5. Kecepatan Audit

Dalam satu hari kerja, tim inspeksi dapat memeriksa belasan hingga puluhan pohon berisiko tinggi. Ini memungkinkan pemerintah kota membuat “Peta Kerawanan Pohon” dalam waktu singkat sebelum musim hujan tiba.


Icon
Dapatkan Root Detector Sekarang, Klik Disini


Jangan tunggu hingga pohon tumbang! Segera hubungi tim kami untuk informasi dan konsultasi lebih lanjut!

Postingan Lainnya

Our Products